Are You Homophobic?

born-child-homophobia-homophobic-quote-favim-com-143354

Banyak negara legalkan same-sex marriage, termasuk yang paling baru dan kemarenan viral, Amerika Serikat. Indonesia? Gue jamin level kita masih jauh dari itu. Alesannya sendiri banyak! Lu mending cek aja twit seri dari ani-ani anggota DPD itu.

Disini, gue pengen cerita soal kecenderungan para homophobic di lingkungan gue. Berdasarkan pemahaman gue, homofobia adalah sikap negatif dari orang-orang terhadap para lesbian, gay, biseksual, dan transeksual.

Cerita pertama mulai saat gue sekolah, dimana pas jaman SD dulu, kecenderungan orang-orang buat ngatain “homo” atau “banci” ke salah satu temennya yang dinilai kewanita-wanitaan, ngondek atau sissy sangatlah tinggi, bikin temennya nangis dan gak mau masuk ke sekolah lagi.

Di SMP, hal-hal semacam itu masih berlaku, tapi cukup minim gue rasain. Sementara di SMA, penerimaan mulai berlaku, dimana gue came out ke temen-temen deket gue yang mayoritas hetero, lalu mereka support gue sampai sekarang, mungkin ada yang tulus, tapi masih ada yang maksa gue buat “sembuh” dari “penyakit” ini.

Beralih ke jaman kuliah, kaum homophobic harusnya mulai berkurang. Harusnya, anak kuliah udah open minded, banyak bergaul sana-sini dan paham betul soal edukasi seksual. Tapi nyatanya? Masih belum berlaku dan makin parah karena di lingkungan kampus gue banyak organisasi keagamaan ala-ala.

Sewaktu issue LGBT kemarin panas, salah satu kenalan (bukan temen) di kampus gue kirim comment di Instagram, di foto gue berdua sama pacar yang udah diposting lama, sekedar say hi. Disini, gue mulai aneh, karena orang itu udah lama gak kontak dan tiba-tiba komen di Instagram gue. Gue pun kepo, buka Facebook dia dan nemu postingan status tertulis:  “DIBALIK MUKA POLOS, TERNYATA BANYAK YANG MENYIMPANG. WASPADALAH”. Tai, bukan?

Beda cerita di tempat gym. Di tempat gym gue, ada banyak gay seliweran, mulai dari yang ngondek alay, ngondek cantik, ngondek lentur ala Ari Tulang sampai personal trainer manly yang ngomongnya mendesis bagai ular. Tapi nyatanya, orang-orang di lingkungan itu masih ada yang homophobic, contohnya salah satu personal trainer yang selalu ngomongin gue dan pacar (berdasarkan laporan si ngondek alay), tau kita sebagai couple dan selalu menjauh tiap liat gue berjarak beberapa meter (padahal gak akan gue samperin juga, sumpah!).

Sampai sekarang, personal trainer itu belum konfirmasi sama gue, selalu menjauh, masang muka asem dan tutup mata bahwa anak didiknya pun banyak yang ngondek. Kesimpulannya, gue meyakini bahwa perlakukan dia karena risih liat pasangan gay, mungkin takut gue perkosa padahal liat mukanya aja gak bikin horny atau dia gay denial yang berusaha ngejauh dari orientasi seksual dirinya sendiri.

Kelakuan macam itu, gak ada apa-apanya dibanding perlakukan bullying yang “sister” gue rasain. Sewaktu kuliah, dia sering diolok-olok senior, digoda-godain, ditanya paksa soal cowo bahkan dosen hukumnya pun ikut nge-bully, nyebut dia penyakitan dan dilarang masuk kelas dengan suara cemooh.

Selain itu, muncul juga komunitas ala-ala yang katanya pengin ngeberantas gay di Indonesia dengan kasar. Padahal, gue yakin mereka gak mau tau dan sama sekali gak ngerti soal orientasi seksual, pasti salah satu dari anggota itu punya kecenderungan seks mengerikan yang gak pernah gue atau komunitas gue lakuin.

Perlukah kita terima kelakuan mereka? Secara umum, mustinya iya! Banyak homophobic yang belum pernah berinteraksi sama gay, padahal mungkin aja kalau tetangga, adik, sepupu bahkan anaknya adalah seorang gay. Untuk mengerti keberadaan gay, mereka harus terbiasa berinteraksi, gak cuma tau kalo gay itu bisanya cuma mesum macam Aris Nurdiansyah bikin video nge-seks alay, posting-posting gambar porno di Twitter macam Dicklicious atau sex party macam di salah satu tempat gym lawas di Bandung.

Menurut gue, kelakuan gay disini banyak yang sangat menyenangkan, kok. Contohnya gue, pacar dan sister-sister gue yang sampai sekarang anti mesum di publik even “pegangan tangan”, gak gengges, gak rese, punya kelakuan layaknya cowo yang mengklaim dirinya straight dan pengin dianggap layaknya orang-orang hetero kalau lagi jalan bareng pacar. Sampai sekarang, gue jaga kelakuan dengan hal-hal macam itu, buat satu tujuan: pengin diterima dengan baik dan gak usah jadi sentimen negatif.

Lu ngerasa capek di nyinyirin, tapi kelakukan lu gengges di publik dan doyan posting-posting gambar porno di sosmed dengan akun anonim? Baik lu udah came out apa belum, lu harus mulai respect sama diri lu sendiri, respect sama orientasi seksual lu dan berkelakuan lah dengan sewajarnya.

Gue tau, adanya seorang gay di kumpulan hetero biasanya mencolok, entah dari penampilan, cara ngomong atau “aura-aura” lainnyad. Permasalahannya, apakah di kumpulan hetero itu semuanya bisa nerima lo dengan baik? Semua perlakuan homophobic cuma bisa dijawab sama diri lo sendiri, sesuai tingkat respect sama diri lo sendiri!

Sementara jika lo sudah berkelakuan positif dan orang-orang masih belum ngerti, mendingan lo mulai berpikir simpel dan gak usah di bawa stress. Lo bisa mulai kasihani orang-orang homophobic tersebut bahwa mereka gak bisa bahagia macam “kita”, gak bisa tunjukin dirinya sendiri ke dunia dan kita bisa berkelakuan lebih baik dari mereka.

 

Advertisements