Being Alone. Choice?

BLACK_RAINBOW_NEW_WINDOW_ROP_VAN_MIERLO_CU1

Sebagian orang, layaknya gue, milih idup bareng pasangan. Sebagian orang lagi milih idup sendiri, dengan berbagai alasan pribadi yang harusnya gak perlu jadi bahan nyinyiran orang.

Milih buat hidup sendiri gak cuma berlaku buat hetero, karena segelintir gay di lingkungan gue memilih hal itu. Padahal, segelintir orang itu bisa disebut mapan, punya fisik oke, dan hal-hal positif lain yang menurut gue udah lebih dari cukup.

Alasan personal yang membuat dirinya milih hidup sendiri lumayan kompleks. Ada yang susah cari pasangan karena standarnya ketinggian, karena dirinya kurang oke (dari sifat dan fisik), gak bisa nemu pasangan setara, alasan lingkungan, karena orang itu emang gak suka pacaran dan milih buat one-night-stand sama banyak orang ketimbang ngejalin hubungan dengan satu orang.

Kenalan gay gue, Danez, milih idup sendiri, milih hubungan tanpa ikatan, punya beberapa fuck buddy di Bandung dan jakarta, padahal fisiknya standar. Dia sendiri punya alesan gak mau pacaran yang menurut gue dangkal: cepet bosen.

Beda lagi sama Gino, gay lebay doyan gym dan drama yang sering ditinggalin dan ditolak laki, padahal postingan foto shirtless seksi nan bohay dia di Instagram udah sampe 190 foto. Gino milih single selama 5 tahun ini karena alasan: trauma.

Kedua orang tadi punya alesan yang gue tau soal keputusannya buat milih hidup sendiri. Kecuali om “kandung” gue yang gay, yang ngejalin hubungan seperlunya sama gue, tapi gue tau dia gay dari kecil, cenderung feminin, judes, lebih doyan ngumpul bareng sodara-sodara cewe, doyan koleksi alat rumah tangga macam gelas kristal luxury dan menurut gue punya sekitar 30% sifat maskulin.

Di umurnya yang udah masuk 40-an, dia masih idup sendiri, sendiri dalam arti yang sebenarnya, tidur sendiri, makan sendiri, pergi kerja sendiri dan balik gawe tanpa sambutan, di rumahnya yang sebelah sama gw.

FYI, kondisi lingkungan rumah gue lumayan padet, nempel antara rumah satu dan lainnya. Om gue itu pun sering dinyinyirin “Jomblo Tua” sama tetangga, sering disuruh cepet kawin sama orang-orang sekitar, padahal orang yang nyuruhnya itu belum tentu kawin secara bener (Re: Jadi bini kedua, ketiga, keempat atau kawin karena bunting duluan).

Beda sama gue, yang belum banyak ditanya kapan kawin, om gue punya kondisi yang susah, tinggal di lingkungan kuno yang cuma bisa kepo, ngejudge dan selalu bilang salah soal apapun yang mereka anggap bener. Disini, gue lebih bangga sama diri sendiri yang bisa tiap hari ajakin pacar ke rumah, pacaran dan bobo berdua di rumah, beda sama dia yang gak bisa handle nyinyiran orang.

Konsisten, om gue itu tinggal sendiri, sampai di akhir 40-an, dia meninggal. Paling shock, om gue itu ketauan meninggal gak sengaja oleh orang lain yang dateng, yang setelah diperiksa nyatanya dia meninggal udah lebih dari 12 jam.

Sampai sekarang, gue gak ngerti sama keputusannya. Padahal, duit dia kenceng banget, bisa pindah buat tinggal di keluar negeri sama orang yang dia mau, atau punya rumah di atas bukit yang jauhan sama tetangga.

Apa dia hidup sendiri buat ngurangin bahan nyinyiran tetangga? Atau dia emang gak punya pasangan?

Setau gue, dia beberapa kali bawa laki yang sama ke rumahnya. Paruh baya, kumisan, garang, naik motor bebek 90-an, tiap dateng selalu diatas jam 10 malam dan besoknya langsung balik sebelum matahari nongol. Lalu, om gue itu pun sering traveling ke luar negeri, setau keluarga gue dia kesana sendiri, padahal gue yakin kalo doi pasti jalan-jalan sama seseorang.

Banyak alasan kenapa seseorang hidup sendiri, pilihan atau keadaan. Buat gue, hidup sendiri gak perlu dinyinyirin, toh orang berpasangan pun belum tentu punya kehidupan yang disebut sempurna dan menyenangkan.

Siapapun berhak buat milih kehidupannya. Terlebih, ada banyak couple gay di Indonesia yang pengin hidup berdua sama pasangan, dengan nyaman, tentram, tanpa ganggu siapapun, dan terpaksa musti tinggal sendiri sampai tua karena gak semuanya bisa handle sindiran dari lingkungan yang maha suci.

Di tahun ke-10 meninggalnya dia yang tepat bulan April nanti, gue masih belum nemu jawaban tentang kesendirian om gue. Apakah beneran single pas dia meninggal? Atau dia terpaksa hidup sendiri dan gak bisa hidup bareng pasangannya karena lingkungan?

  • Buat om gue, semoga bahagia disana.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Being Alone. Choice?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s